Mempelajari kitab suci tidak cukup hanya dengan membaca teksnya secara harfiah, namun diperlukan perangkat keilmuan yang memadai untuk menyingkap tabir makna di baliknya. Salah satu kitab yang menjadi pintu masuk utama bagi para penuntut ilmu dalam memahami isi kandungan firman Tuhan adalah Tafsir Jalalain. Di lembaga pendidikan Rahmatulhidayah, program Edukasi Tafsir Jalalain diberikan dengan pendekatan yang sangat sistematis. Kitab karya dua ulama besar, Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi ini, dipilih karena gayanya yang ringkas (ijaz) namun sangat padat akan informasi esensial yang dibutuhkan untuk memahami maksud dasar dari setiap ayat.
Pembelajaran di Rahmatulhidayah dimulai dengan pembedahan kosa kata (mufradat) yang ada dalam ayat. Para santri diajarkan bahwa setiap pilihan kata dalam Al-Quran memiliki bobot teologis dan hukum yang berbeda. Melalui metode ini, mereka diajak untuk memahami makna yang paling mendekati maksud aslinya berdasarkan kaidah bahasa Arab klasik. Tafsir Jalalain sangat membantu para pelajar pemula karena penjelasannya yang langsung pada inti masalah, tanpa terlalu banyak terjebak dalam perdebatan gramatikal yang terlalu panjang. Hal ini membuat proses transfer ilmu di Rahmatulhidayah menjadi sangat efektif dan efisien.
Selain pemahaman teks, kurikulum di lembaga ini juga menekankan pada aspek asbabun nuzul atau latar belakang turunnya ayat. Di lingkungan Rahmatulhidayah, santri dilatih untuk melihat konteks sejarah di balik sebuah wahyu. Dengan mengetahui situasi sosial-politik pada masa Rasulullah SAW, para santri dapat mengambil ibrah atau pelajaran yang lebih luas untuk diterapkan di masa kini. Proses edukasi ini membentuk pola pikir yang komprehensif, sehingga mereka tidak mudah terjebak dalam pemahaman tekstualis-radikal yang sering kali mengabaikan konteks di balik sebuah perintah atau larangan dalam agama.
Kedisiplinan dalam mengkaji kitab ini juga berdampak pada ketajaman analisis santri. Dalam setiap sesi di Al-Quran, guru akan memberikan pertanyaan pemantik yang merangsang daya nalar santri mengenai relevansi ayat tersebut dengan isu-isu kontemporer. Misalnya, bagaimana ayat tentang keadilan sosial dalam Tafsir Jalalain bisa diimplementasikan dalam sistem pemerintahan modern atau etika bertetangga. Pendidikan di Rahmatulhidayah memastikan bahwa ilmu yang didapat tidak hanya berhenti sebagai tumpukan memori, melainkan menjadi panduan hidup (way of life) yang nyata dan aplikatif bagi para alumninya kelak di tengah masyarakat.