Hutan Hilang, Budaya Musnah? Refleksi Rahmatulhidayah

Hubungan antara manusia dan alam bukan sekadar hubungan pemanfaatan sumber daya, melainkan ikatan batin yang membentuk identitas sebuah bangsa. Fenomena Hutan Hilang yang terjadi secara masif di berbagai belahan Nusantara kini memicu kekhawatiran mendalam mengenai masa depan jati diri kita. Melalui sebuah tinjauan mendalam, Refleksi Rahmatulhidayah mencoba membedah bagaimana kerusakan ekosistem hutan berbanding lurus dengan memudarnya nilai-nilai kearifan lokal. Hutan bukan hanya kumpulan pepohonan, melainkan perpustakaan hidup yang menyimpan tradisi, obat-obatan herbal, hingga filosofi hidup yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kita.

Dalam pandangan Rahmatulhidayah, ketika sebuah kawasan hutan beralih fungsi menjadi lahan industri atau perkebunan monokultur, yang hilang bukan hanya oksigen dan keanekaragaman hayati, tetapi juga kaitan sejarah masyarakat adat dengan tanah kelahirannya. Banyak bahasa daerah, istilah tumbuhan, hingga ritual adat yang menghilang karena ekosistem yang menjadi inspirasinya telah musnah. Narasi ini menegaskan bahwa Budaya suatu masyarakat seringkali berakar dari interaksi mereka dengan alam sekitar. Jika alamnya hancur, maka fondasi budaya tersebut akan goyah dan perlahan menghilang, meninggalkan generasi muda yang kehilangan pegangan akan nilai-nilai luhur dan keaslian tradisi mereka sendiri.

Upaya penyelamatan lingkungan haruslah berjalan seiring dengan pelestarian tradisi. Melalui Refleksi ini, masyarakat diingatkan bahwa hutan adalah pelindung spiritual. Banyak komunitas di Indonesia menganggap hutan sebagai tempat yang sakral, di mana hukum-hukum alam dihormati lebih dari sekadar aturan tertulis. Hilangnya hutan mengakibatkan masyarakat tersebut tercerabut dari akarnya dan dipaksa masuk ke dalam pola hidup modern yang individualistis dan konsumtif. Rahmatulhidayah menekankan pentingnya menjaga “hutan larangan” atau kawasan konservasi berbasis kearifan lokal sebagai benteng terakhir pertahanan budaya kita di tengah arus globalisasi yang seringkali mengabaikan keseimbangan ekologis demi keuntungan materi semata.

Lebih jauh lagi, kaitan antara Musnah atau hilangnya pengetahuan tradisional dengan krisis ekologi adalah sebuah peringatan bagi ketahanan nasional. Pengetahuan tentang tanaman pangan alternatif atau cara bertahan hidup di alam liar yang dimiliki masyarakat hutan adalah aset berharga yang tidak bisa digantikan oleh teknologi manapun. Rahmatulhidayah mengajak institusi pendidikan untuk kembali memperkenalkan kecintaan terhadap alam melalui jalur kebudayaan.