Menjaga Kemurnian Bacaan: Seberapa Penting Sanad Qira’ah Diajarkan dalam Tradisi Pesantren?

Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya di lingkungan pesantren, keakuratan dan otentisitas dalam membaca Al-Qur’an adalah prioritas utama. Menjaga Kemurnian Bacaan ini diwujudkan melalui pengajaran Sanad Qira’ah, yaitu mata rantai periwayatan bacaan yang bersambung secara lisan, generasi demi generasi, hingga kepada Rasulullah SAW. Menjaga Kemurnian Bacaan melalui sanad bukan sekadar formalitas akademik, tetapi merupakan inti dari talaqqi (pembelajaran langsung) dan menjadi penjamin keabsahan qira’ah (cara membaca) seorang santri. Menjaga Kemurnian Bacaan adalah tanggung jawab kolektif pesantren sebagai institusi pewaris tradisi kenabian.

Pentingnya Sanad Qira’ah terletak pada prinsip otentisitas dan transmisi lisan. Al-Qur’an diturunkan secara lisan, sehingga cara membacanya harus dipelajari dan diwariskan secara lisan pula, bukan hanya dari teks tertulis. Seorang muqri’ (guru yang bersanad) akan membacakan ayat dengan tajwid dan qira’ah tertentu (misalnya Qira’ah Hafs ‘an ‘Ashim), dan santri akan menirukannya persis sama, baris demi baris, kata demi kata. Proses yang dikenal sebagai talaqqi musyafahah (penerimaan langsung tatap muka) ini memastikan setiap detail makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan sifatul huruf (sifat huruf) tersampaikan dengan sempurna, jauh dari kesalahan yang mungkin timbul jika belajar hanya dari buku.

Lulusan pesantren yang berhasil menyelesaikan Sanad Qira’ah dianggap memiliki otoritas yang sah untuk mengajarkan Al-Qur’an. Mereka akan menerima ijazah sanad yang mencantumkan nama guru mereka, guru guru mereka, hingga rantai tersebut terhubung kepada salah satu dari sepuluh Imam Qira’ah, dan pada akhirnya, kepada Rasulullah SAW. Sebagai contoh, pada upacara penyerahan Sanad Qira’ah di salah satu pesantren tahfidz pada hari Ahad, 13 Oktober 2024, hanya 12 santri yang dianggap memenuhi syarat setelah melalui ujian tasmi’ (membaca seluruh Al-Qur’an dari ingatan) yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Jumlah yang sedikit ini menunjukkan betapa ketatnya standar yang diterapkan dalam proses ijazah sanad.

Dengan menjadikan Sanad Qira’ah sebagai puncak pencapaian dalam pembelajaran Al-Qur’an, pesantren berhasil Menjaga Kemurnian Bacaan dan peran Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam. Ini memberikan jaminan kepada umat bahwa bacaan yang diajarkan oleh alumni pesantren adalah bacaan yang terjaga, otentik, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan spiritual.