Dalam sistem pendidikan massal, seringkali potensi unik seorang murid terabaikan karena kurikulum yang diseragamkan. Namun, pesantren memiliki teknik sorogan yang menjadi solusi cerdas untuk memastikan tidak ada murid yang tertinggal. Sistem ini adalah cara jitu kiai dalam memberikan perhatian yang mendalam bagi setiap individu, di mana setiap santri bisa maju sesuai dengan kecepatan belajarnya sendiri. Melalui interaksi privat ini, guru dapat secara akurat memantau perkembangan intelektual maupun spiritual santri dari waktu ke waktu tanpa ada yang terlewati.
Keunggulan dari sistem ini adalah tingkat akurasi penilaiannya. Dalam sesi sorogan, kiai tidak hanya mendengarkan bacaan teks Arab, tetapi juga memperhatikan gerak-gerik dan cara berpikir muridnya. Teknik sorogan memungkinkan adanya koreksi instan terhadap kesalahan pemahaman yang terjadi. Ini adalah bentuk pengajaran yang sangat personal, di mana kiai bisa memberikan nasihat yang khusus sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh santri tersebut. Cara jitu kiai ini memastikan bahwa standar kualitas lulusan tetap terjaga dengan sangat ketat dan tidak hanya bersifat formalitas semata.
Dari sisi santri, metode ini menghilangkan rasa malu untuk bertanya. Di kelas besar, banyak murid yang ragu mengutarakan ketidaktahuannya, namun saat melakukan sorogan, mereka merasa lebih bebas untuk berdialog dengan gurunya. Proses memantau perkembangan ini dilakukan secara bertahap, mulai dari kitab-kitab dasar hingga kitab yang paling sulit. Keberhasilan seorang santri dalam menyelesaikan sebuah kitab melalui metode ini memberikan rasa kepuasan batin yang sangat tinggi karena ia tahu bahwa pemahamannya benar-benar telah diuji dan disahkan secara langsung oleh sang ahli ilmu.
Selain aspek kognitif, sorogan juga menjadi sarana transfer nilai-nilai karakter. Saat duduk bersimpuh di depan kiai, santri belajar tentang adab dan kesabaran. Teknik sorogan mendidik santri untuk menghargai proses belajarnya sebagai sebuah perjalanan spiritual, bukan sekadar mengejar nilai angka. Kiai menggunakan momen ini untuk menyisipkan pesan-pesan moral yang akan diingat oleh murid seumur hidupnya. Inilah cara jitu kiai dalam membentuk kepribadian yang utuh, di mana kepintaran akal berjalan seiring dengan kejernihan hati yang selalu terkontrol dengan baik.
Hingga masa kini, sistem ini tetap menjadi kebanggaan institusi pesantren. Meskipun jumlah santri mencapai ribuan, dedikasi pengajar untuk melakukan sorogan tetap tidak luntur. Melalui upaya memantau perkembangan yang sangat detail ini, pesantren mampu melahirkan kader-kader ulama yang mumpuni dan memiliki integritas yang teruji. Santri yang besar dengan didikan sorogan akan menjadi pribadi yang sangat teliti dan bertanggung jawab atas ilmu yang ia miliki, karena ia sadar bahwa setiap kata yang ia pelajari telah disetujui melalui pengawasan ketat sang guru.