Di tengah tantangan polarisasi dan meningkatnya isu SARA, pendidikan yang menanamkan Toleransi Sejak Dini menjadi kebutuhan mendesak. Pesantren, terutama model modern dan terpadu, secara unik berfungsi sebagai laboratorium keragaman budaya dan sosial. Toleransi Sejak Dini di pesantren tidak hanya diajarkan sebagai konsep teori, melainkan dipraktikkan melalui kehidupan asrama yang menyatukan ratusan santri dari berbagai suku, daerah, dan latar belakang ekonomi. Sistem ini memaksa santri untuk berinteraksi, beradaptasi, dan merayakan perbedaan, menghasilkan lulusan yang matang dan menghargai pluralisme.
Keragaman Suku dan Dialek dalam Satu Kamar
Pesantren seringkali memiliki jangkauan penerimaan santri yang sangat luas, meliputi seluruh kepulauan Indonesia. Dalam satu kamar asrama, Anda mungkin menemukan santri dengan aksen Jawa, Sunda, Batak, dan Bugis yang tinggal bersama.
- Adaptasi Bahasa: Santri harus Belajar Toleransi terhadap perbedaan dialek dan kebiasaan komunikasi. Mereka belajar mengenali dan menghormati kebiasaan budaya yang berbeda, seperti perbedaan dalam adab makan, cara berbicara dengan senior, hingga tradisi dalam menyambut hari raya.
- Filterisasi Budaya: Lingkungan pesantren menyediakan “wadah peleburan” di mana santri mempertahankan identitas budayanya (misalnya, masakan daerah saat kiriman dari rumah) tetapi meleburkannya ke dalam identitas kelompok yang lebih besar, yaitu identitas santri. Mereka menyadari bahwa terlepas dari asal usulnya, semua terikat oleh seragam, jadwal, dan tujuan belajar yang sama.
Pengalaman ini mempersiapkan santri untuk lingkungan profesional dan sosial yang majemuk di masa depan. Sebagai contoh, di sebuah pesantren di Jawa Barat, terdapat program pertukaran budaya pada hari Pahlawan, 10 November 2024, di mana santri dari berbagai daerah menampilkan tarian dan masakan khas mereka, merayakan keragaman alih-alih menganggapnya sebagai penghalang.
Menghormati Perbedaan Pemahaman (Khilafiyah)
Selain keragaman suku, pesantren juga mengajarkan Toleransi Sejak Dini dalam keragaman pemahaman agama (khilafiyah). Dalam studi Kitab Kuning, santri dihadapkan pada perbedaan pendapat para ulama (Mazhab).
- Logika dan Analisis: Melalui forum Bahtsul Masail (diskusi ilmiah), santri belajar untuk menghargai bahwa masalah agama dapat memiliki lebih dari satu solusi yang valid, asalkan didukung oleh dalil dan logika yang kuat. Mereka diajarkan untuk menghormati pandangan yang berbeda tanpa harus kehilangan pandangan pribadi mereka.
- Etika Berdebat: Mereka belajar etika berdebat (adab al-ikhtilaf), yaitu bagaimana mempertahankan argumen dengan tegas tetapi tetap santun dan menghormati lawan bicara. Kemampuan ini menjadi bekal yang sangat penting bagi lulusan pesantren saat menghadapi perbedaan pandangan di dunia profesional atau politik.
Dengan mempraktikkan toleransi setiap hari—mulai dari berbagi selimut hingga menghargai perbedaan mazhab—pesantren berhasil mencetak individu yang tidak hanya cerdas spiritual, tetapi juga dewasa dalam menghadapi kompleksitas sosial dan budaya.